Apa Kabar Surakarta – Peringatan Hari Sungai Sedunia yang jatuh pada akhir September menjadi ajang refleksi terhadap kondisi sungai di berbagai daerah, termasuk di Kota Solo. Sayangnya, kondisi sungai di kota budaya ini masih jauh dari kata sehat. Prof. Prabang Setyono, pengamat lingkungan dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, menilai sungai-sungai di Solo belum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

Menurutnya, keberadaan sungai yang seharusnya menjadi sumber kehidupan kini justru terbebani oleh pencemaran limbah rumah tangga, industri, hingga tumpukan sampah. Selain itu, fungsi ekologis sungai sebagai pengendali banjir dan habitat biota air juga semakin menurun.
Ancaman Pencemaran dan Limbah
Salah satu masalah terbesar yang dihadapi adalah tingginya pencemaran limbah cair dari aktivitas domestik maupun usaha kecil-menengah. Limbah yang tidak diolah dengan baik langsung mengalir ke sungai, menyebabkan penurunan kualitas air. Kondisi ini diperparah dengan budaya masyarakat yang masih menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.
Baca Juga : BNPB Catat 50 Rumah Rusak akibat Gempa Banyuwangi
Prof. Prabang menekankan bahwa jika kondisi ini dibiarkan, bukan hanya kesehatan ekosistem yang terganggu, tetapi juga kualitas hidup masyarakat. Air sungai yang tercemar bisa menjadi sumber penyakit, sementara banjir musiman semakin sulit dikendalikan karena sedimentasi dan penyempitan aliran.
Upaya Pemerintah dan Partisipasi Publik
Pemerintah Kota Solo sebenarnya telah menggulirkan beberapa program pengendalian pencemaran, mulai dari normalisasi sungai, pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), hingga kampanye kesadaran lingkungan. Namun, upaya tersebut belum maksimal karena minimnya kesadaran dan partisipasi publik.
“Masalah sungai bukan hanya soal teknis, tetapi juga soal perilaku masyarakat. Tanpa perubahan mindset, sungai akan tetap jadi korban,” ujar Prof. Prabang. Ia menegaskan perlunya sinergi antara pemerintah, akademisi, komunitas lingkungan, dan masyarakat untuk memperbaiki kondisi sungai di Solo.
Momentum Hari Sungai Sedunia
Hari Sungai Sedunia seharusnya tidak hanya menjadi seremoni, melainkan momentum untuk memperkuat aksi nyata penyelamatan sungai. Prof. Prabang berharap momentum ini mendorong lahirnya kebijakan yang lebih tegas terkait pengendalian limbah, penegakan hukum terhadap pencemar sungai, serta pendidikan lingkungan yang berkelanjutan.
Dengan kerja sama semua pihak, sungai-sungai di Solo diharapkan bisa kembali berfungsi sebagai sumber kehidupan, ruang ekologi, sekaligus warisan lingkungan yang sehat bagi generasi mendatang.






